Hari Santri dan Kesehatan Sosial: Antara Hierarki, Feodalisme, dan Ashabiyah di Dunia Pesantren

Hari Santri bukan hanya peringatan terhadap sejarah heroik kaum santri dalam perjuangan kemerdekaan, tetapi juga momentum refleksi atas peran pesantren dalam menjaga kesehatan sosial bangsa. Di tengah arus perubahan sosial dan digitalisasi nilai, pesantren tetap menjadi salah satu institusi paling berpengaruh dalam membentuk watak dan moral masyarakat Indonesia. Namun, seperti tubuh manusia yang sehat karena keseimbangan sistemnya, institusi pendidikan juga harus sehat secara sosial — termasuk dalam mengelola hierarki, otoritas, dan solidaritas internalnya.

Hierarki sebagai Struktur Nalar dan Adab

Dalam teori sosial klasik, Émile Durkheim menegaskan bahwa masyarakat bertahan karena adanya struktur moral dan sistem nilai bersama. Pesantren, dengan segala hirarkinya — dari kiai, ustaz, santri senior, hingga santri baru — berfungsi sebagai miniatur masyarakat moral. Hierarki di pesantren bukanlah bentuk penindasan, tetapi mekanisme transmisi ilmu dan adab. Ia menjaga kesinambungan otoritas keilmuan agar tidak terputus oleh egoisme intelektual modern yang serba bebas tanpa sanad.

Dalam konteks pendidikan, hierarki ibarat tulang punggung yang menegakkan tubuh pengetahuan. Tanpa struktur itu, proses belajar akan kehilangan arah dan wibawa. Namun seperti tubuh, tulang punggung yang terlalu kaku justru bisa melumpuhkan gerak. Di sinilah pesantren perlu menjaga keseimbangan antara hormat dan keterbukaan, antara adab dan dialog.

Feodalisme: Ketika Adab Menjadi Alat Kekuasaan

Masalah muncul ketika hierarki kehilangan ruhnya dan berubah menjadi feodalisme. Feodalisme dalam dunia pendidikan — termasuk pesantren — terjadi ketika penghormatan kepada guru bergeser menjadi kultus pribadi, ketika otoritas digunakan bukan untuk mendidik, tetapi untuk mendominasi.

Pierre Bourdieu menyebut ini sebagai bentuk kekerasan simbolik — dominasi yang tampak lembut karena dibungkus bahasa adab, tetapi sejatinya menumpulkan daya kritis. Santri tidak lagi belajar berpikir, melainkan hanya mengulang. Kiai atau ustaz tidak lagi mendidik murid untuk menjadi penerus, tetapi pengikut.

Dalam kondisi seperti ini, pendidikan kehilangan vitalitasnya. Adab yang seharusnya melahirkan kebijaksanaan berubah menjadi sistem yang melanggengkan jarak sosial. Padahal, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kehormatan seorang guru tidak lahir dari jarak, tetapi dari kasih dan keteladanan.

Ashabiyah dan Bahaya Ekstremisme dalam Solidaritas

Pesantren juga menghadapi tantangan lain: ekstremisme dalam bentuk ashabiyah — fanatisme kelompok yang menutup diri dari perbedaan. Ibn Khaldun menggunakan istilah ini untuk menjelaskan energi sosial yang mampu menggerakkan peradaban, tetapi juga bisa menghancurkannya ketika kehilangan arah.

Ashabiyah bermanfaat selama ia menjadi perekat solidaritas; tetapi menjadi penyakit sosial ketika ia menjelma menjadi sekat identitas. Dalam konteks pesantren, ashabiyah muncul ketika loyalitas kepada almamater atau kelompok keagamaan berubah menjadi eksklusivisme dan klaim kebenaran tunggal.

Pesantren sehat adalah yang mampu menjaga ruh jamaah tanpa kehilangan ruh insaniyah — semangat kebersamaan tanpa kehilangan kemanusiaan. Ia menjadi ruang dialog antara tradisi dan modernitas, antara kiai dan santri, antara keislaman dan kebangsaan.

Pesantren Sehat, Masyarakat Sehat

Dalam paradigma kesehatan sosial, pesantren dapat diibaratkan sebagai organ moral masyarakat. Ketika organ ini berfungsi dengan baik — dengan hierarki yang sehat, tanpa feodalisme dan tanpa ashabiyah ekstrem — maka masyarakat sekitar juga akan lebih sehat secara sosial.

Kiai yang bijak akan melahirkan santri yang terbuka. Santri yang kritis akan melahirkan masyarakat yang dinamis. Dan masyarakat yang dinamis akan menjadi lahan subur bagi peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Penutup: Hari Santri sebagai Refleksi Sosial

Hari Santri seharusnya tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga ajang muhasabah. Sudahkah pesantren menjadi ruang tumbuhnya adab dan ilmu secara seimbang? Sudahkah hierarki dijaga tanpa jatuh ke dalam feodalisme? Sudahkah solidaritas dijalankan tanpa menjadi ashabiyah?

Sehat sosial bukan hanya tentang relasi antarindividu, tetapi tentang ekosistem nilai yang hidup di tengah masyarakat. Pesantren, sebagai pusat nilai itu, memegang peran vital: menjadi penyeimbang antara ketaatan dan kebebasan, antara tradisi dan pembaruan.

Dan dari pesantrenlah, kesehatan sosial bangsa akan terus berdenyut — tenang, bijak, dan penuh adab.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *